Bahagiaku Hilang karena Leukimia


Download Beta


Oleh : Ridho Maulana (SMAN 1 Pati X-9)
“Apa kamu serius Sya mau pindah ke Sumatra ? Kamu tega mau ninggalin aku”
“Maafin aku Rif, tapi aku benar-benar mau pergi.”
Kesedihan terpancar dari mukaku ketika aku melihat kepergian Alisya dari hadapanku, dengan menggunakan mobil warna merahnya. Saat itu aku tak menyangka bahwa orang yang selama ini selalu ada untukku akan pergi meninggalkanku.
Sudah satu tahun terasa Alisya pergi dari hadapanku, dan sejak itu pula aku menjadi seseorang yang pendiam, setiap malam kerjaanku hanya mengurung diri dikamar sambil melamun dan membayangkan saat-saat dimana aku menghabiskan waktu yang indah bersama Alisya.
FLASH BACK
Saat itu aku masih 15 tahun dan aku duduk di kelas 1 SMA, hari itu tidak akan pernah aku lupakan ketika aku jadian dengan Alisya.
Aku sudah mengenal Alisya dengan baik sejak kecil, karena sejak kami lahir rumah kami memang sudah bersebelahan. Sejak kecil kami selalu pergi bersama, hingga teman-teman disekolah memanggil kami sahabat kembar, aku tidak tahu sejak kapan  dan dari mana teman-teman kami memberi julukan itu kepada kami, tapi yang jelas julukan itu sudah ada sejak kami kelas 1 SD hingga sekarang, dan kami menyukai julukan tersebut.
Pagi itu suasana terlihat mendung,
“Sya, Alisya?” teriakku didepan rumahnya.
“Ada apa?” jawabnya dari jendela.
“Cepetan keluar, aku mau ngajakin kamu ke rumah Bella.”
“Mau ngapain kesana?”
“Udah cepetan gak usah bawel!”
Dia keluar rumah dan menghampiriku, dan saat itu aku sudah tidak sabar untuk menunjukan sesuatu yang telah aku persiapkan sebelumnya. Dengan menggunakan motor matic berwarna unguku, aku membawa Alisya sang putri idamanku ke sebuah taman.
Dalam perjalanan, aku yang biasanya cerewet dan banyak gerak ketika itu terlihat pucat dan gugup. Perasaanku seperti tak menentu, antara perasaan senang, gak sabar, dan takut bercampur jadi satu. Akupun tak mengeluarkan sepatah kata saat perjalanan tersebut karena takut akan hal yang tidak aku inginkan terjadi.
“Kamu kenapa Ky, kok gak kayak biasanya?” tanya Alisya penasaran.
Saat itu aku gugup untuk berkata dan hanya menggelengkan kepala. Terlihat dari kaca spion bahwa si Alisya juga ikut bingung karena perubahan sikapku yang tak seperti biasanya.
Tidak lama kemudian, kami telah sampai di tujuanku. Saat aku berhenti di sebuah taman serentak dia bertanya dengan sedikit kesal terlihat dimukanya.
 “Kenapa berhenti Ky? Katanya mau ke rumah Bella? Tingkahmu hari ini benar-benar membuatku bingung.”
“Lihat ke belakang Sya.” Jawabku santai.
Dia terlihat terkejut ketika dia memalingkan badannya ke arah belakang, dan melihat taman indah dengan rangkaian bunga mawar yang dirangkai sedemikian rupa hingga tertulis I LOVE U di tengah taman itu, yang telah kupersiapkan sebelumnya.
“Haah? Apa ini Ky?”
“Hih dodol, masak kamu nggak ngerti sih apa maksudku?” jawabku sambil mencubit pipinya.
“Serius aku nggak ngerti Ky.”
“Iya uda aku jelasin yah, Sya aku itu sayang sama kamu.”
“Terus?”
“Ah kamu lola ya, kamu mau nggak jadi pacarku?” tanyaku serius.
“Emmhh, mau nggak ya? (selang lama) aku mau Ky.” Jawabnya dengan pasti
“Serius Sya?”
“Iya Rifkyku sayang.” jawaban yang tak pernah aku duga.
Ketika kami akan meninggalkan taman seketika itu pula hujan turun dengan derasnya seakan tidak memperbolehkan kami untuk meninggalkan tempat tersebut. Dan saat itu kami mencari tempat berteduh di taman itu, kemudian kami menuju salah satu gazebo yang ada di taman tersebut.
Hujan tak kunjung reda sehingga kami pun cukup lama di tempat itu. Dan dengan spontan tiba-tiba aku  menyanyikan sebuah lagu yang menggambarkan betapa bahagianya perasaanku saat itu. Suasana tercipta sangat damai dan romantis seketika itu.
Tepat tanggal 9, bulan ke sembilan, tahun 2009 dan juga pukul 09.00 aku jadian sama Alisya. Dan hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunku yang ke 15, sehingga semuanya terasa spesial saat itu. Aku tidak akan pernah melupakan satu detik pun kenangan indah bersamanya saat itu. Semenjak hari itu hidupku terasa berbeda dan menjadi lebih indah, aku selalu berusaha untuk membuat Alisya tersenyum ketika bersamaku, setiap pagi kami pun selalu berangkat sekolah bersama dengan menggunakan sepeda unta milikku, serasa dunia milik berdua saat itu dan yang lainnya itu cuma ngontrak, menurut bahasa pepatah zaman sekarang. Sering kali juga aku diberi sarapan pagi berupa sup yang dibuatkan khusus oleh Alisya untukku.
Satu tahun setelah kami berpacaran aku terkejut ketika Alisya berkata padaku bahwa dia akan pindah ke Sumatra untuk melanjutkan sekolah disana, saat itu kami sedang makan di kantin sekolah, dia menatapku seakan tidak ingin memalingkan pandangannya dari wajahku. Tak seperti biasanya dimana kami ketika berada di kantin selalu bercanda gurau bersama tetapi waktu itu wajah Alisya seakan berkata ingin berbicara tentang hal serius kepadaku.
“Ky?” panggil Alisya.
“Kenapa Sya?” jawabku sambil tersenyum.
“Gimana kalau misalnya aku pergi jauh ninggalin kamu, apa kamu akan kangen sama aku? tanya Alisya serius.
“Maksud kamu apa sya? Kamu mau ninggalin aku?”
“Ky, mulai besok ayahku akan pindah tugas ke Sumatra, itu perintah dari atasannya.”
“Kamu serius Sya? Jangan bercanda deh! Gak lucu ah.” tanyaku takut.
“Apa mukaku keliatan bercanda Ky?”
Pada saat itu aku tidak sanggup menjawab petanyaan dari Alisya, aku hanya bisa terdiam dan termenung. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari hadapannya saat itu untuk menenangkan diri sejenak. Alisya memanggilku dan mengejarku namun aku tetap tidak mau berhenti. Dan aku menuju ke halaman belakang sekolah untuk berdiam diri sejenak disana.
“Kamu kenapa Rif? Dicariin dari tadi ee malah ritual sendiri disini. Di kelas udah ada gurunya tau’.” ujar Andre.
“Gakpapa Ndre, aku cuma mau nenangin diri sejenak. Kamu masuk kelas dulu aja.” jawabku gelisah.
“Kamu nggak seperti biasanya? Punya masalah Rif?”
“Nggak ada apa-apa kok.”
“Nggak ada apa-apa kok kamu menyendiri di sini dan muka kamu juga kusut gitu?“
Andre bingung kenapa aku bersikap seperti itu, pada saat itu Alisya datang dan menjelaskan semua pada Andre. Alisya menyuruh Andre untuk meninggalkan kami berdua disini. Alisya meminta maaf kepadaku tentang masalah di kantin tadi, aku yang sedang emosi dan masih belum bisa menerima kenyataan itu akhirnya menyuruh Alisya meninggalkanku disini. Dan keesokan harinya, Alisya dan keluarganya benar-benar serius pindah ke Sumatra.
Usiaku kini telah menginjak 17 tahun, sejak kepergian Alisya dia tidak pernah ada kabar sama sekali, apa mungkin Alisya sudah melupakanku? Aku tidak pernah tahu sekarang dia tinggal dimana.
Disaat aku sedang asyik melamun dan melihat bintang-bintang  dilangit tiba-tiba seseorang mengagetkanku dari belakang.
“Hey!” tegur Kevin.
“Eh Vin, kamu ngagetin aja, sama siapa kesini?” jawabku.
“Sama geng kita dong Rif, mereka stay di ruang tamu, tadi mamahmu nyuruh aku masuk ke kamarmu buat manggil kamu”
“Oh, suruh aja kesini, aku lagi males keluar kamar nih
“Kamu itu kapan Rif nggak males, selalu jawab kayak gitu, sudahlah kamu jangan mikirin Alisya terus, pikirin tuh si Angel, kurang apa si dia? Dia itu baik, perhatian sama kamu, tapi kenapa kamu gak pernah mau nanggepin dia?”
“Masalahnya tuh aku belum bisa buka hati buat cewek lain Vin”
“Kapan kamu bisa lupa sama Alisya kalau kamu setiap hari cuma ngurung diri dikamar dan enggak pernah mau bergaul di luar rumah” sahut Kevin..
“Bener itu yang di bilang sama Kevin Rif.” timpal Zaky
“Kalian ini, bisa aja kalau ngomong. Saat ini belum waktunya untuk buka hati buat cewek laen tau.”
“Sampai kapan lagi sih kamu mau ngarepin harapan yang tak jelas itu? Setiap ada cewek yang deketin kamu, kamu selalu bilang kalau masih belum bisa membuka hati untuk seseorang lagi.” Bentak Andre.
“(selang lama) Kamu bener  Ndre, aku bodoh ternyata ya. Padahal Alisya gak pernah minta aku untuk nungguin dia yah?” ucapku sedih.
“Tapi Ndre, mungkin gak ya Alisya itu kembali kesini lagi?” tanyaku berharap.
“Itu gak mungkin Rif, kalau dia memang bakal kembali kesini lagi dia pasti bakalan bilang sama kamu sebelum dia pergi?” kata Andre menasehatiku.
Malam ini teman-temanku menginap dirumahku, ketika kami sedang asyik mengobrol dan bermain dikamarku. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, aku tidak tahu siapa yang menelepon dan aku langsung mengangkatnya.
“Halo, dengan siapa ya?” tanyaku pada orang tersebut.
Setelah lama aku menunggu dan orang tersebut tidak menjawab sapaanku, aku mengulanginya lagi.
“Siapa ini?”
Karena lama tidak menjawab akhirnya aku matikan teleponnya.
“Siapa Rif yang menelpon?” tanya Andre.
“Gak tahu Ndre, sama dia enggak ada jawaban, mungkin SB.” jawabku meledek.
“Apa itu SB Rif?”
“Salah sambung,” jawabku tersenyum.
Tidak lama kemudian nomer yang tadi menelepon lagi, kali ini aku berikan HPku kepada Andre, aku menyuruh Andre untuk mengangkatnya. Namun Andre tidak mau, akhirnya Zaky menawarkan diri untuk mengangkatnya.
“Halo, ini siapa ya?” tanya Zaky sokimut gitu.
“Bisakah aku bicara dengan Rifky?” jawab penelepon itu.
“Bisa, memangnya ini siapa?” tanya Zaky kembali.
“Ini temannya.” kembali penelepon itu menjawab.
Kemudian Zaky memberikan HP itu kepadaku, namun disaat aku bertanya kepada penelepon itu, dia hanya diam saja dan tidak mau menjawab pertanyaanku sama sekali, aku jadi sedikit kesal dengan orang itu dan aku mematikan teleponnya lalu menon-aktifkan HPku dan menaruhnya di atas meja.
“Kenapa Rif? Tanya Kevin
“Gila memang penelepon itu, dari tadi aku ngomong enggak dijawab sama sekali, memangnya tadi itu siapa si Zak?” tanyaku pada Zaky
“Aku gak tahu Rif, dia cuma bilang kalau dia itu temen kamu.” jawab Zaky bingung
“Cewek apa cowok?”
“Dari suaranya sih cewek Rif.”
“Alah sudahlah lupain saja, aku ngantuk mau tidur. Kalian udah ngantuk belum? Udah jam 11 loh.”
“Kalian tidur duluan aja kalau sudah ngantuk, aku mau chatting-an dulu sama pacarku, boleh aku pinjem HP kamu Rif?” kata Zaky.
“Boleh, ambil tuh diatas meja.”
Mentari pagi mulai menampakkan diri dan menggantikan bulan menghiasi langit. Terdengar dari luar kamarku suara ibu membangunkanku dan sahabat-sahabatku, tak lama kemudian aku terbangun dan membuka pintu menghampiri ibuku yang sedang berdiri di depan pintu kamar.
“Hari ini kamu libur sekolah kan, kamu jaga rumah ya? Ibu dan Ayah mau pergi menjenguk pamanmu di rumah sakit, tadi malam paman masuk rumah sakit” kata ibu.
“Iya Bu, hati-hati ya. Masih pagi kok buru-buru pergi?” Jawabku kepada ibu.
“Tidak apa-apa Ky, kasihan bude sendirian nemenin paman di rumah sakit, ibu sudah siapkan sarapan untuk kalian di meja makan.”
“Iya Bu.”
“Tante pergi dulu ya, tante titip Rifky.” kata ibu pada teman-temanku.
“Iya Tante,” jawab semuanya serentak.
Aku berjalan di belakang ibu mengantarnya sampai di depan pintu rumah, pada saat aku berdiri di depan rumah aku tiba-tiba ingat dengan Alisya, aku rindu dengan dia, aku berharap pagi ini akan ada semangkok sup yang dibuatkannya khusus untukku, namun itu hanya angan-angan yang tidak mungkin akan terwujud. Aku menutup pintu rumah lalu masuk ke dalam kamar dan menemui sahabat-sahabatku yang sedang berbaring di atas tempat tidur, aku melihat keluar jendela, aku ingat masa-masa dulu ketika Alisya masih disini bersamaku. Cuaca hari ini benar-benar persis ketika aku jadian dengan Alisya dulu, mendung dan tenang, aku melihat keluar jendela dan melihat langit, aku harap hari ini akan turun hujan. Besok adalah 2 tahun aku jadian sama Alisya, apa dia masih ingat tanggal itu? Tanyaku dalam hati dan tanpa aku sadar aku telah meneteskan air mata.
“Rif, kamu kenapa?” tanya sahabat-sahabatku.
“Aku ingat sama Alisya, hari ini mirip banget sama hari dimana aku jadian sama dia” jawabku sedih.
“Rif, kita yakin Alisya disana juga masih ingat kalau besok adalah 2 tahun kalian jadian” ucap Zaky sambil mengelus punggungku.
“Kamu tahu dari mana kalau dia inget tentang besok” tanyaku penasaran.
“Firasatku bilang kayak gitu Rif. Oh iya, tadi malam Angel sms aku, dia bilang hari ini ingin ngajakin kamu maen, kamu mau gak Rif?”
“Udah mau aja Rif, buat menghibur diri kamu yang lagi sedih” sahut Kevin.
“Iya Rif bener tuh, buat apa nolak ajakan cewek secantik Angel rugi tau.” timpal Andre.
“Iya bilang aja sama Angel nanti jam 11 aku jemput” jawabku.
“Kamu serius mau Rif?”
“Iya Zak, mau. Tapi kalian jagain rumahku ya, jangan pergi kemana-kemana.”
“Oke siap beb.”
Mungkin memang benar kata sahabat-sahabatku kalau aku itu butuh refreshing agar bisa menenangkan pikiran dan melupakan semua masalah yang ada dalam hidupku, aku harus bisa membuka diri untuk perempuan lain. Jam menunjukkan pukul 6.30 tepat, aku dan sahabat-sahabatku pergi ke dapur untuk sarapan pagi, ibu memasak semur jamur kesukaanku dan Alisya semasa kami masih duduk di bangku SMP dulu, aku hanya tersenyum melihat masakan itu. Setelah selesai sarapan kami langsung membereskan rumah dan setelah itu kami main PS di ruang keluarga, ketika kami sedang asyik main PS, HP Zaky berbunyi dan ia pergi menjauh dari kami untuk mengangkat telepon seakan tidak mau kami tahu siapa yang menelponnya. Zaky membuka pintu depan rumah dan keluar, tidak lama kemudian Zaky masuk kembali kedalam rumah, dan kembali menonton tv bersama kami lagi.
Tidak terasa jam kini telah menunjukkan pukul 10.15, kemudian aku bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan bersama Angel.
“Good luck ya friend.” Kata Zaky dengan tersenyum ke arahku.
“Oke Zak.” Jawabku.
Zaky tersenyum melihat kearahku, aku tidak ingin membuat sahabat-sahabatku selalu ikut sedih jika mereka melihat keadaanku yang seperti ini terus, aku ingin membuat mereka semua bahagia, setelah aku selesai menyiapkan semuanya. Aku berdiri di depan kaca dan berkata
“Aku harus bisa membahagiakan semua orang yang sayang sama aku.”
Kemudian aku berjalan menuju ruang keluarga dimana sahabat-sahabatku sedang asyik bermain PS, aku menghampiri mereka dan tersenyum lalu berkata.
“Doa’in sukses ya.”
“Doaku selalu untukmu friend, sukses ya sama Angelnya dan dapatkan bahagiamu kembali.” Jawab Zaky.
Saat aku membuka pintu, begitu terkejutnya aku ketika melihat semangkok sup tersedia rapi di meja depan rumahku. Aku gelisah dan mengambil sup itu, aku kembali lagi masuk ke dalam ruang keluarga, didepan Zaky, Andre, dan Kevin aku menunjukkan sup itu ke arah mereka, rinduku yang selama ini aku pendam di dalam hati benar-benar tidak bisa aku simpan lagi, sup ini benar-benar sama persis dengan sup yang selalu dibuatkan oleh Alisya kepada setiap pagi. Sahabat-sahabatpun tersenyum sedih seakan mereka juga ikut merasakan apa yang saat ini kurasakan.
“Siapa orang yang menaruh sup ini dimeja depan rumah?” tanyaku sedih.
Tidak ada yang menjawab pertanyaanku tersebut, aku mencoba menahan air mataku yang hendak keluar. Seketika itu pukul menunjukan 10.50, sudah saatnya aku menjemput Angel, aku pun bergegas pergi karena tak ingin menghancurkan rencana ini.
Rumah Angel hanya berjarak 5 kompleks dari rumahku jadi tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk kesana, sesampai disana aku melihat Angel sudah bersiap didepan rumahnya, aku masih penasaran dengan kejadian tadi dan menanyakannya pada Angel.
“Ngel apakah kamu tadi sempat kerumahku dan menaruh semangkok sup di depan rumahku?” tanyaku dengan penuh tanda tanya di dalam hati.
“Bukan Rif, memangnya kenapa?” balik Angel mengajukan pertanyaan.
“Gak apa-apa kok Ngel, udah lupain aja, kamu mau ngajak aku kemana?”
“Oh... udah kamu ikut aja, nanti kamu bakal tau sendiri”
“Iya udah ayok naik”
Aku hanya menuruti kata-kata Angel sebagai pengatur dan pengarah jalan, ketika aku seperti kehilangan ide karena masih bingung dengan kejadian tadi. Begitu lama kami menelusuri jalan yang entah kemana Angel mengaturku, 2 jam perjalanan akhirnya Angel menyuruhku untuk berhenti disebuah Rumah Sakit swasta yang bisa di bilang Rumah Sakit exclusive, aku tidak mengerti kenapa Angel mengajakku kesini. Angel mengajakku memasuki rumah sakit dan melangkah melalui koridor-koridor rumah sakit tersebut, aku membaca di atas dinding tertulis ruang penyakit kanker dan kami berhenti di salah satu ruang bernama ruang mawar nomer 13, aku semakin bingung dengan Angel, apa yang sebenarnya akan Angel tunjukkan kepadaku, aku menarik tangan Angel ketika ia hendak membuka pintu ruang kamar tersebut, Angel menoleh dan tersenyum ke arahku. Ketika Angel membuka pintu ruang kamar tersebut dia menyuruhku untuk masuk duluan ke dalam, aku hanya menurut dengan perintah Angel, aku kaget ketika melihat kedua orang tuaku ada di dalamnya, dan disitu juga aku melihat orang tua Alisya, aku semakin bingung dengan keadaan ini. Ketika aku melihat ke sudut kamar yang lebar itu aku melihat seorang perempuan terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, aku seperti tidak asing dengan perempuan itu tapi siapa aku belum tau pasti, aku mencoba mendekatinya dan betapa terkejutnya aku ketika melihat dan mengetahui siapa perempuan yang ada di atas tempat tidur itu, ternyata perempuan itu adalah Alisya orang yang selama ini aku tunggu-tunggu kedatangannya. Tanpa basa-basi aku langsung memeluk tubuhnya dengan erat, aku menangis dan masih belum mengerti dengan semua ini, namun Alisya hanya tersenyum melihatku.
“Sya, aku kangen banget sama kamu, kenapa kamu gak pernah kasih aku kabar? Apa kamu udah lupa sama aku? ” tanyaku dengan rasa rindu yang sudah memuncak.
“Aku juga kangen sama kamu bawel, kamu apa kabar? Tambah ganteng aja sekarang, aku gak mungkin Ky lupa sama kamu” jawab Alisya.
“Terus kenapa kamu gak kasih aku kabar? Kamu bilang kamu ke Sumatra, tapi kok masih disini?”
Semua orang diruangan itu keluar meninggalkan aku dan Alisya berdua, Alisya pun mulai menjelaskan semua yang terjadi kepadaku dan betapa terkejutnya aku ketika ia bilang bahwa ia menderita penyakit leukimia stadium akhir, aku menangis di depan Alisya dan dia menyuruhku agar tidak menangis karena itu hanya akan membuatnya bersedih.
“Kamu bohong kan Sya? Kamu enggak serius kan?” tanyaku memastikan semua perkataannya.
“Enggak Rif, aku serius, kamu dari dulu enggak pernah berubah ya, selalu aja enggak pernah mau percaya sama aku”
“Gimana aku bisa percaya jika semua ini terjadi sama kamu Sya.”
“Selama 1 tahun ini aku selalu memperhatikan perkembanganmu, aku sedih ketika mendengar dari ayah sama ibu kamu kalau kamu sekarang menjadi lelaki yang pendiam Rif, dulu waktu aku pertama kali mendengar kalau aku menderita penyakit leukimia aku sama kayak kamu Rif, aku syok banget, makannya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mu agar kamu tidak terlalu menderita dengan penyakitku ini. Cukup aku aja yang menderita Rif, dokter bilang umur aku sudah tidak lama lagi Rif.”
Aku mengerti dengan sifat Alisya dan semua yang dia pikirkan, aku tidak ingin membuatnya semakin sedih karena melihatku menangis, aku ingin membuat hari-hari terakhir Alisya menjadi lebih indah.
Zaky, Andre, dan Kevin masuk ke dalam ruang dimana aku dan Alisya berada di dalamnya, mereka mengejutkanku, Zaky menjelaskan semuanya kepadaku bahwa orang yang meneleponku tadi malam itu adalah Alisya, semangkok sup itu juga dari Alisya, dari tadi malam ternyata Alisya, Zaky, dan Angel sudah menyiapkan semua ini untukku.
Andre, Kevin dan aku terkejut mendengar semua ini.
“Rif, aku pengen pergi ke taman dimana kita dulu jadian,” pinta Alisya.
“Iya Sya, aku akan bawa kamu kesana” jawabku.
Ayah Alisya dan ayahku memapah Alisya masuk ke dalam mobil sedangkan aku membawakan kursi roda untuk Alisya, badan Alisya terlihat begitu kurus dan lemah, aku sangat sedih melihat penderitaan yang di hadapi oleh Alisya, namun aku hanya dapat tersenyum untuk menghiburnya. Tak lama kemudian kami sampai di taman, aku mendorong Alisya menggunakan kursi roda, ketika aku akan mendorong kursi roda, Alisya memegang tanganku dan menyuruh Angel yang mendorong kursi roda Alisya, seluruh keluargaku dan keluarga Alisya serta sahabat-sahabatku melihat kami bertiga dengan tersenyum. Alisya meminta Angel membawanya ke gazebo yang dulu aku gunakan untuk berteduh dari hujan dengan Alisya. Disana Angel meninggalkan kami berdua, Alisya menyanyikan lagu yang dulu pernah kita nyanyikan berdua ditaman ini, aku hanya bisa menangis, kemudian Alisya menghapus air mata yang mengalir dipipiku dengan kedua tangan.
“Aku tidak mau melihat air matamu Rif.” kata Alisya
Setelah lama kami mengobrol disana Alisya menyuruhku untuk memanggil Angel, aku pergi meninggalkan Alisya untuk mencari Angel, saat aku sudah bertemu dengan Angel, aku memeluknya lalu menangis didalam dekapan Angel.
“Aku gak kuat ngadepin semua ini Ngel, aku sudah lama nungguin Alisya kembali sama aku, tapi kenapa disaat Alisya kembali semuanya menjadi seperti ini Ngel?” ucapku sambil menangis di dalam pelukan Angel.
“Udah Rif, kamu yang sabar aja ya, semua ini sudah ada yang mengaturnya.” jawab Angel.
Angel melepaskanku dari pelukannya dan mengajakku untuk menemui Alisya, dari kejauhan aku melihat Alisya meneteskan air mata, namun Alisya langsung megusap air matanya seakan ia tidak ingin aku dan Angel melihat kesedihan yang terpancar di raut mukanya.
“Ngel, apa kamu mau nggantiin aku mendampingi Rifky setelah aku pergi nanti?” pinta Alisya kepada Angel.
“Kamu itu ngomong apa Sya, aku yakin kamu akan sembuh.” jawab Angel.
“Enggak Ngel, aku gak akan sembuh, kamu adalah satu-satunya orang yang berhak dan pantas menjaga Rifky, Ngel. Bukan aku, tapi kamu Ngel, aku serahin semua sama kamu, aku yakin kamu bisa gantiin aku menjaga Rifky, jawab Alisya pada Angel.
“Rif, aku sayang sama kamu, aku harap kamu bisa hidup bahagia dengan Angel tanpa aku disisi kamu lagi.” kata Alisya padaku.
Aku hanya bisa menangis mendengar semua itu, Alisya menarik tangan Angel dan menaruhnya di atas tanganku seakan ia ingin agar aku bersama dengan Angel, pada saat itu tangan Alisya yang sedang menggenggam tanganku dan Angel tiba-tiba terjatuh diatas pangkuannya dan matanya tertutup untuk selamanya. Aku menangis dan kemudian memeluk tubuh Alisya yang sudah terbujur kaku di atas kursi roda itu. Aku tidak menyangka bahwa Alisya perempuan yang sangat aku cintai akan meninggalkanku untuk yang kedua kalinya dan kali ini ia tidak akan pernah kembali kepadaku lagi untuk selama-lamanya.

_ooTAMAToo_



Share this post :

Poskan Komentar

Peraturan :
Karena beberapa kali terjadi penulisan komentar yang tidak sesuai dengan peraturan, maka banyak komentar yang admin hapus. Dan admin mengubah settingan komentar.

1. Silakan tulis komentar dengan bahasa yang sopan dan berkaitan dengan artikel.
2. NO SARA, NO PORNO, NO KEKERASAN.
3. Dilarang menulis komentar yg sama pada setiap posting.
4. Akun anonim sudah dinonaktifkan.
5. Jika menggunakan Name dan URL, harus URL yang valid. (tidak berlaku/dinonaktifkan)

> Jika ditemukan komentar yang melanggar ketentuan ini akan dihapus.
> Berlaku untuk komentar mulai 21 April 2013 dan seterusnya.

Sponsor

Anda merasa dibantu??? Silakan berikan DONASI anda seikhlasnya.

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. My-Axes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
Selamat datang di My-Axes Edukasi. Sebuah situs blog sederhana yang akan memberikan anda pengetahuan-pengetahuan dan artikel terupdate. Ingin lebih dekat dengan admin? Hubungi admin dengan mengirimkan pesan singkat (sms) ke 085641282142. Terimakasih.