Tangisan Hati Borneo


Download Beta


Tangisan Hati Borneo
Oleh : Roesita Widya H (SMAN 1 Pati X-9)
Pagi ini udara terasa sangat sejuk. Mentari mengintip dibalik rerimbunan pohon-pohon rindang. Masih malu menampakkan sinar emasnya yang berkilau indah. Ku lakukan gerakan ringan untuk menghilangkan lelah setelah melakukan perjalanan jauh dari Jawa Tengah menuju Kalimantan Tengah yang membutuhkan waktu dua hari satu malam. Angin pagi menunjukkan kebolehannya menari. Sejak pertama aku menghembuskan nafas ditempat baruku, aku merasakan sesuatu entah apa itu. Sepertinya jiwaku telah lama berada ditempat ini.
Segera aku berlari menuju kolong rumah adat panggung atau lebih tepatnya rumah Betang yang aku dan keluargaku sekarang tempati. Aku melihat adikku satu-satunya sedang asyik mencari undur-undur bersama teman barunya di bawah kolong rumah. Betapa cepat adikku mempunyai teman. Sepertinya adikku mulai terbiasa dengan keadaan sekarang yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Bergegas aku mengambil sebuah timba dan berlari menyusul ibu menyusuri jalan setapak. Sepanjang perjalanan aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumya, apa aku sedang berada di negeri dongeng ? Aku melihat burung warna – warni menari dan bernyanyi  bersahutan seperti alunan simfoni alam yang begitu merdu terdengar.Aku juga melihat rusa kecil yang bersembunyi di balik gerombolan rumput liar. Pohon-pohon hijau aku lalui disepanjang kanan dan kiri jalan. Suara monyet dan orang utan menggema hingga merasuk kedalam telingaku dan berlabuh dalam kalbuku. Aku terlalu menikmati suasana.
 Aku segera menyusul ibu yang mulai jauh meninggalkanku.Tak berapa lama, aku melihat air sungai yang sangat jernih. Terlihat ikan elok berkejar-kejaran. Sungai ini ternyata lumayan jauh dari belakang rumahku. Ku ambil timba yang ku bawa dari rumah dan mengisinya dengan air jernih yang begitu dingin. Dari semua tempat, sepertinya sungai ini berbeda dari sungai yang lain,  karena airnya tidak berwarna hitam.
“Cepat jikuk banyune gowo neng omah. Mulai saiki mbak Sita ados ning kali iki.Ibu ngerti iki beda karo ndisik, ibu pengen kuwe ngerti”, ibu mencoba memberi pengertian kepadaku, seorang anak kelas 1 SD. Aku hanya mengangguk dengan wajah menunduk. Mataku sempat melirik kearah rimbunan bunga anggrek warna-warni dipinggir sungai. Makhluk bersayap indah hinggap diantara bunga-bunga itu.
“Assalamualaikum bu, aku berangkat sekolah ”, setelah mengucapkan salam aku bergegas mempercepat langkahku kesekolah. Jalan ditempat ini berbeda dengan tempatku dulu. Aku tidak melihat lantai keras berwarna hitam yang menyelimuti jalan. Yang ada hanya tanah berdebu. Jalannya pun tak semulus dan selurus ditempatku dulu, jalannya berkelok dan naik turun. Aku heran karena aku tidak menjumpai banyak rumah disini. Yang ada hanya hamparan ilalang, perkebunan lada dan perkebunan kelapa sawit. Namun aku tetap melangkahkan kakiku dengan gembira karena setidaknya aku tidak lagi mendengar suara bising makhluk bensin. Sekolahku sangat luas. Disisi kanan terdapat rumah dinas bapak ibu guru yang berjejer rapi terbuat dari kayu dan berbentuk rumah adat. Karena luasnya, serasa aku mengitari lapangan sepak bola tempatku dulu sebanyak lima kali. Terlalu banyak keheranan yang aku temui. Keheranan yang mampu membuatku terpana.
Di sekolah baruku, aku belum berani mengucapkan kalimat ke teman-teman. Hanya kalimat perkenalan yang aku ucapkan. Aku mencari-cari teman yang kiranya sama denganku. Sepertinya hampir semua murid disini warga kampung semua.Warga  Kampung adalah penduduk asli suku dayak Ngaju.          
Saat istirahat, aku melihat satu anak yang asyik bermain lompat tali bersama teman -temanya. Rambutnya dikepang dua dan dia terlihat sangat manis. Aku mencoba berbicara dengannya, tapi dia dan teman-temannya justru menertawakanku. Aku memang tidak terlalu bisa berbahasa indonesia, jadi aku berbicara dengan bahasa jawa. Aku baru tahu kalau teman-teman tidak faham dengan bahasaku. Tahun pertama aku habiskan bermain bersama teman-teman dan belajar bahasa indonesia lebih banyak. Aku juga sedikit demi sedikit mulai belajar bahasa dayak Ngaju karena muatan lokal dalam mata pelajaran disekolahku tidak mengajarkan pelajaran basa jawa. Pelajaran muatan lokal tidak seperti di sekolahku dulu yang mengajarkan basa Jawa.
Tak terasa sudah dua tahun aku sekolah di tempat ini. Semakin hari, aku semakin menyukai tempat ini. Pak guru sangat baik dan suka membacakan cerita fabel untuk ku dan teman –teman. Aku juga sudah mulai lancar berbahasa indonesia. Ayah menghabiskan waktunya untuk mengurusi perkebunan lada, sedangkan Ibu sibuk di rumah mengurusi keluarga,  terutama mengurus Gilang yang mulai memasuki bangku kelas satu SD. Menurutku dia sangat manja, mungkin karena dia anak laki-laki satu-satunya kesayangan ibu, sedangkan aku, anak perempuan kesayangan ayah. Hari ini aku berencana pergi ke hutan bersama beberapa teman laki-lakiku. Aku tidak berani bilang ke ayah karena aku yakin ayah pasti akan marah kepadaku. Kami berangkat pagi-pagi benar. Aku dibonceng temanku yang paling besar. Mata kami disuguhi pemandangan indah pohon kelapa sawit yang berbaris rapi. Tidak mudah memang medan yang kami lalui. Jalannya bagai jurang yang tak bertepi. Setelah matahari tepat berada di atas ubun-ubun kepala, kami sampai juga disebuah tempat tujuan. Setelah kami parkir sepeda ditempat aman, kami berjalan masuk ke sebuah tempat yang penuh keajaiban.
 “Waw, apa aku berada disurga. Ini benar-benar surga”, tak sadar kata itu terucap dari mulutku.
“Ngak Sita, kita ni dihutan ndak disurga, kamu tak pernah ke hutan ya, kalau aku sering kesini bantu abangku ambil kayu bakar” , celoteh Dani yang tak terlalu ku dengar, karena aku terlalu kagum dengan tempat ini.
Aku melihat pohon-pohon tinggi menjulang bagai menara . Sinar mentari tak sanggup menembus lebatnya hijau dedaunan. Orang utan bergelantungan dengan meneriakkan suara khas mereka. Kilauan sinar mencoba menyelinap masuk, berharap dapat memamerkan sinar nya yang menyilaukan mata. Serangga pun tak mau kalah dengan menunjukkan kehebohan paduan suara yang saling beriringan.


Aku juga melihat sebuah danau yang kuyakini belum ada orang yang memancing disana. Aku mengambil mata kail dan senar yang aku bawa dari rumah. Dua puluh ekor ikan sebesar lengan tangan orang dewasa aku dapatkan.
“Hari ini kita pesta ikan teman-teman”, aku berteriak dengan wajah senang tak tergambarkan.
“Udah lah, kau aja yang makan, kita ni udah muak dengan ikan”, jawab Romi dengan santainya.
“Besok kita kesini lagi ya? Aku ingin bisa ketempat ini setiap hari”, pintaku pada teman-teman.
 “Ya berdoa saja. Dulu belakang rumah kami adalah hutan, sekarang telah berganti menjadi perkebunan kelapa sawit. Aku tak yakin hutan ini akan lolos dari penggalan gergaji besi para pendatang. Aku berharap keluargamu tak merusak hutan. Ayo pulang sebelum fajar hilang”, perkataan Yosi yang membekas dihati.
Sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 3 SD. Betapa menyenangkannya tinggal disini hingga aku begitu hanyut dalam suasana keharmonisan dan kedamaian lukisan tuhan.
“Selamat pagi pak guru.....”
“Selamat pagi anak-anak, hari ini adalah pelajaran bahasa indonesia. Bapak akan bercerita, tapi yang menentukan ceritanya adalah kalian. Diantara murid bapak yang berani, siapa yang ingin memberikan usul ?”, bapak guru pahlawan kami berbicara. Beliau adalah anak kepala suku desa ini sebelum desa ini menjadi desa transmigrasi.
“Saya ingin bapak bercerita tentang masa kecil bapak, sebelum hutan ditempat ini dijadikan perkebunan”, aku memberanikan diri bertanya.
“O..Sita, baiklah bapak akan bercerita. Dulu bapak main dihutan setiap hari karena tak ada tempat bermain selain dihutan. Bapak hanya perlu berjalan lima menit dari rumah untuk sampai kehutan. Hutannya masih banyak karena dalam adat ada peraturan dilarang menebang pohon besar. Kalaupun ingin menebang pohon besar, harus dilakukan ritual yang begitu rumit. Di hutan bapak biasanya membuat jebakan untuk menangkap burung. Yang menarik, dulu bapak membantu apak mengambil kantong semar besar untuk menanak nasi”, cerita pak guru.
“Menanak nasi dengan kantong semar ? bukannya kantong semar itu kecil ya pak ? kok bisa ?”, keingintahuanku mendorongku bertanya lagi.
“Zaman dulu, ada kantong semar sebesar panci menanak nasi. Nasi terasa sangat lezat jika dimasak didalam kantong semar. Gini, dalam tradisi jawa mengukus nasi dengan tanah liat dan corong anyaman bambu, kalau zaman bapak dulu menanak nasi dengan periuk tanah liat dan kantong semar”, pak guru berusaha menjawab pertanyaanku.
Jangkrik mulai mengerik. Suaranya memecah kesunyian malam. Ayahku berusaha menyalakan lampu petromak untuk diletakkan di ruang tamu, sedangkan ibu menyalakan lampu “uplik” untuk menerangi ruang kamar tidur. Setelah mencentelkan uplik pada sebuah paku didinding, ibu segera masuk kedalam kelambu menemaniku dan dek Gilang tidur.
 “Bu, ceritakan tentang tujuh bidadari dan jaka tarub”, rengekku pada ibu. Memang setiap malam ibu rutin menceritakan dongeng sebelum aku tidur. Dengan suara merdunya dan pelukan hangatnya mampu membuatku tertidur pulas.
            Siang ini Ibu membelikan baju baru untukku. Belinya tidak di toko baju, melainkan di Dorongan. Dorongan adalah toko baju berjalan. Tokonya didorong seperti grobak. Bajunya bagus-bagus tidak kalah dengan baju ditoko yang ada di kota. Sebenarnya di desaku belum ada toko baju. Biasanya yang jualan baju Dorongan adalah orang Bugis. Seluruh suku yang ada di Indonesia hampir sebagian ada di Desaku. Aku sering menyebut desaku dengan sebutan desa Nusantara, karena didiami bermacam-macam suku dan agama. 
Aku bercermin sambil mengamati perubahan dalam diriku terutama tinggi badanku. Tinggi badanku semakin bertambah. Kusadari kalau sekarang tak terasa waktu terlewatkan, aku sudah naik kelas empat SD. Hari-hari yang kulalui semakin penuh  petualangan.

“Mbak Ayah datang”, teriak dik Gilang.
Terdengar suara motor shogun kuno yang memekakkan telinga. Segera aku meninggalkan Rizal temanku bermain kelereng,  dan bergegas pergi menuju kolong rumah. Ku buka toples yang penuh kelereng dan segera kumasukkan kelereng dari tangan mungil ku kedalam toples. Aku tidak ingin emosi ayah muncul ketika melihat anak perempuan satu-satunya bermain permainan anak laki-laki.
Rencana hari ini adalah mencari bambu dibelakang rumah besama dek Gilang. Kami akan membuat layang-layang terhebat didunia yang mampu terbang menembuas awan. Aku memotong bambu menjadi potongan kecil tapi panjang dan dek gilang bertugas menyipakan plastik bekas dan mengguntingnya sesuai rangka layang – layang. Setelah dua puluh menit, akhirnya jadi layang-layang kami. Layang-layang kami terbangkan di lapangan pinggir jalan. Pemandangan kali ini berbeda dengan tahun lalu, terlihat lebih banyak rumah berjejer, kendaraan besi pun lebih banyak berlalu lalang. Angin membawa terbang layang-layang kami. Aku melihat mobil loging membawa kayu besar atau tepatnya sangat besar, berjejer di pinggir jalan. Mungkin sopirnya sedang beristirahat,  fikirku. Aku heran kenapa mobil loging, sebutan untuk mobil yang menbawa batang pohon besar dari hutan, dari tahun ke tahun semakin banyak. Aku jatuh tertabrak adikku yang asyik mengatur layangan hingga tak melihat ada aku dibelakangnya.
Gerimis baru saja menjatuhkan tetesan air ke bumi. Aku melihat pelangi yang sangat indah dilangit biru muda. Aku berlari berusaha mencari ujung pelangi yang aku kira diujungnya ada para bidadari sedang mandi. Tapi aku tidak beniat seperti jaka tarub lho, mencuri selendang bidadari. Aku hanya penasaran apakah bidadari benar-benar ada. Ternyata ujung pelangi jauh sekali, aku tak kuat berlari lebih jauh lagi.
Saat dalam perjalanan pulang ke rumah, aku melihat Robi termenung di bawah pohon petai. Aku melihat dia memegang bunga petai berwarna kuning. Biasanya kami menggunakan bunga petai untuk bermain. Disampingnya terdapat bunga menjuntai. Bunga pink indah itu ternyata dari pohon Residi. Bunganya indah sekali seperti bunga sakura.
Aku merasakan aura sedih dari raut wajah Robi. Sehari yang lalu rusa kecil Robi hilang dicuri orang. Sepertinya yang mecuri warga pedatang. Karena sebelumnya,aku dan Robi menemukan sisa Rusa panggang di belakang salah satu rumah warga pendatang baru di desa kami. Walau aku juga sangat sedih, tapi aku berusaha menghiburnya sebisaku.
“Sudahlah jangan bersedih, gimana kalau kita cari rusa lagi?”, ucapku mencoba menghibur sahabat kecilku anak suku dayak Ngaju.
“Mau cari rusa kemana, semuanya sudah punah. Kenapa bapak adat tak mengusir kalian ? Apa kalian tidak kasihan melihat Rusa diburu dan dibunuh ?”, robi mengungkapkan isi hatinya.
“Kamu jangan gitu, aku kan ngak menyakiti rusa”, belaku
“Gimana kalau kita cari di hutan yang dulu kita datangi waktu kelas dua SD?”, tawarku pada Robi
“Baiklah,”
Setelah setengah hari perjalanan aku tidak melihat hutan yang dulu. Yang ada hanyalah pohon kelapa sawit yang baru saja ditanam.
“Benarkan kataku, kalian semua memang jahat “, Robi berteriak melampiaskan amarahnya.
“Robi...Robi..Tunggu...”, aku berusaha menyusul Robi.
Memasuki kelas 5, menandakan aku telah mulai beranjak remaja. Aku mulai mengerti apa arti sebuah harapan. Harapan yang kini tinggal harapan ketika alam yang menopang kehidupan telah hilang dari pandangan. Kristal pasir telah berubah menjadi serpihan debu. Tak mungkin bisa dikembalikan seperti sedia kala. Itulah ibarat untuk keadaan alam tempat tinggalku sekarang.
Aku sama sekali tidak melihat lagi mobil loging karena larangan pemerintah. Namun keadaannya mungkin lebih parah dari ilegal loging. Dadaku sesak, ini tak sebanding dengan sesaknya hatiku. Ingin rasanya aku menangis, tetapi siapa yang akan peduli. Segera aku pasang sepatuku, dan bergegas kesekolah. Tak lupa aku memakai masker sederhana buatan ibu.
            Kabut asap menghalangi pandanganku hingga tak terlihat apapun pada jarak sepuluh meter didepanku. Di sekolah aku melihat banyak pesawatt TNI terbang melewati atas atap sekolahku. Kata pak guru, didalam pesawat itu ada Garam untuk memadamkan Api.
            Kecelakaan kendaraan semakin marak. Teman kami meninggal ditabrak sepeda motor saat pergi mengaji, karena kabut asap yang menghalagi pandangan pengendara. Kami berduka, putra Borneo berduka. Rumah-rumah panggung Betang, berganti rumah tembok yang berjejer di sepanjang jalan. Walau listrik belum ada dan jalan masih sama seperti dulu, berdebu saat musim kemarau, berlumpur saat musim penghujan,  namun diesel sudah masuk desa.
Tak ada hutan yang tersisa. Yang ada hanyalah arang – arang pohon surga yang dimakan iblis-iblis merah menyala buatan manusia. Tak ku lihat sahabat hutan yang setia mengeluarkan suara khasnya. Yang ada hanyalah bangkai- bangkai primata dan mamalia penghuni hutan.
“Sita, tutup pintu dan cepat tidur. Malam-malam begini banyak beruang berkeliaran “, ibu mengomando kami
“Dulu ngak ada beruang berkeliaran, kenapa sekarang ada. Kenapa manusia jahat bu, mereka kan ngak mempunyai kesalahan pada manusia?”, aku ingin mengucapkan lebih banyak kata yang ingin ku tahu jawabannya.
“Sudahlah, cepat tidur”, ibu sepertinya tak mau tahu dan tak mau memberi tahu jawaban dari pertanyaanku
Aku berdiri sambil memandang langit hitam yang dipenuhi ribuan bintang. Aku tak ingin mendengar tangisan Borneo lebih keras. Walau aku hanya pendatang, tapi aku tetaplah seorang manusia yang mempunyai rasa iba terhadap tanah Borneo tempatku bernafas dan menjalani hari-hari yang mampu melukiskan senyum di hatiku.
Aku semakin tak mengerti. Walau sekarang aku sudah kelas enam. Keindahan alam kalimantan kini tinggal kenangan, yang tak akan pernah terhapus zaman terutama didalam ingatanku. Semua telah terlukis indah dalam kisah ku sejak kecil.
Cerobong pabrik mengeluarkan aroma tidak sedap. Ya, pabrik pengolahan minyak goreng berdiri kokoh didesaku. Limbahnya menyebar tanpa kenal ampun .
Oh tuhan....dimana surga alam mu yang kau ciptakan dulu ? Mengapa semua jadi seperti ini. Akankah ini akan kembali seperti semula. Dan kenapa disaat seperti ini aku harus pergi kembali ke tanah jawa. Aku harus meninggalkan teman-teman dan juga salah satu tempat kebanggaan ibu pertiwi yang telah berganti. Aku masih ingin menikmati mentari pagi ditemani pisang goreng buatan ibu. Aku masih ingin berlari dan menari di hutan bersama kawan. Aku masih ingin mendapat ikan yang besar di rawa. Aku masih ingin melihat kijang dan rusa melompat senang di tanah lapang. Mendengar burung beo berkicau. Mengagumi orang utan yang melompat kesana kemari. Bernafas diudara jernih belum terkena polusi. Memandangi pelangi bagai lukisan para peri. Melihat dan merasakan senyuman ibu pertiwi.             Kenyataanya sekarang, aku tidak melihat senyum Robi lagi walau untuk yang terakhir kali. Yang aku rasakan sekarang adalah kepedihan tangisan dan linangan air mata borneo yang menyayat hati,  entah kapan akan hilang. Ibu pertiwi pun tak kalah sedihnya. Dalam hati aku berjanji, aku akan kembali. Membawa seribu mimpi untuk menghidupkan kembali pelangi di hati putra-putri Borneo sejati. Tak lupa, kan kutumbuhkan berjuta – juta benih pohon yang nantinya akan memenuhi berjuta-juta harapan






Nama   : Roesita Widya Hapsari
Kelas   : X-9
No.      : 24



Share this post :

Poskan Komentar

Peraturan :
Karena beberapa kali terjadi penulisan komentar yang tidak sesuai dengan peraturan, maka banyak komentar yang admin hapus. Dan admin mengubah settingan komentar.

1. Silakan tulis komentar dengan bahasa yang sopan dan berkaitan dengan artikel.
2. NO SARA, NO PORNO, NO KEKERASAN.
3. Dilarang menulis komentar yg sama pada setiap posting.
4. Akun anonim sudah dinonaktifkan.
5. Jika menggunakan Name dan URL, harus URL yang valid. (tidak berlaku/dinonaktifkan)

> Jika ditemukan komentar yang melanggar ketentuan ini akan dihapus.
> Berlaku untuk komentar mulai 21 April 2013 dan seterusnya.

Sponsor

Anda merasa dibantu??? Silakan berikan DONASI anda seikhlasnya.

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. My-Axes - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
Selamat datang di My-Axes Edukasi. Sebuah situs blog sederhana yang akan memberikan anda pengetahuan-pengetahuan dan artikel terupdate. Ingin lebih dekat dengan admin? Hubungi admin dengan mengirimkan pesan singkat (sms) ke 085641282142. Terimakasih.